Sekarang ini lagi rame-ramenya dukung mendukung suatu institusi, tak perlu saya sebutkan karena pembaca pasti sudah tahu, walaupun masa kampanye sudah lewat. Dan salah satu bentuk dari acara dukung mendukung tersebut adalah berupa seni, baik seni pertunjukan, nyanyian maupun puisi. Sekarang ini mungkin sedang jadi trend di Indonesia, kesenian jadi sarana politik, mungkin itu juga yang menyebabkan banyaknya artis jadi anggota partai politik. Ataukah ini cuma cermin dari tingkat pendidikan politik masyarakt kita yang cenderung memilih orang yang populer di bandingkan memilih dengan memperhatikan program-program yang diberikan. Dan sayangnya acara dukung-mendukung tersebut penuh dengan kata-kata nyinyir yang cukup memerahkan telinga bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya.
Pada masa lalu seniman merupakan bagian dari masyarakat, namun nampaknya sekarang seni merupakan bagian dari kekuasaan. Ini adalah kesimpulan subyektif saya sebagai masyarakat awam, dan kenapa saya mempunyai kesimpulan seperti itu, saya akan jelaskan melalui artikel ini. Pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, kita telah mengenal lagu-lagu perjuangan, dan puisi-puisi yang menggugah rasa kebangsaan. Pada masa itu juga kita mempunyai musuh yang sangat nyata yaitu Belanda dan Jepang yang telah menjajah kita. Dan kalau kita perhatikan hampir tidak ada hujatan, makian, hinaan terhadap mereka melalui seni perjuangan saat itu, yang ada hanyalah seni yang menggugah semangat kita untuk bangkit melawan penjajah. Tidak ada kata-kata nyinyir yang membuat merah telinga, padahal mereka musuh kita, namun seni seperti inilah yang sukses membawa kita ke pintu kemerdekaan.
Kalau kita bandingkan sekarang, bisa di katakan seni yang ada hanya membawa keterpurukan mental, yang membuat kebanggaan kita sebagai bangsa dan warga negara Indonesia menuju ke titik nadir. Salah satunya yang membuat saya kecewa adalah salah satu puisinya Taufik Ismail yang berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, saya sangat paham atas kacaunya birokrasi di negeri ini yang penuh dengan kolusi dan korupsi, tetapi kenapa sampai harus malu jadi Orang Indonesia, kenapa tidak memilih kata-kata yang menggugah masyarakat untuk bangkit melawan birokrasi yang kotor itu, kenapa harus menghancurkan kebanggaan sebagai Orang Indonesia, kenapa tidak menganjurkan menolak setiap pungutan, misalnya “tolak pungutan liar atau mati” (ngikutin semboyan jaman kemerdekaan nich..)., dan kenapa-kenapa lainnya. Saya sangat menghormati Pak Taufik Ismail sebagai seniman yang jenius dan religius, tidak ada maksud untuk memojokkan seseorang, ini hanya salah satu contoh (kebetulan pak Taufik Ismail dengan karyanya itu sangat di kenal di Indonesia), saya cuma mengharapkan seniman-seniman yang ada sekarang lebih positif dalam membuat karya seni, karena dengan hawa positif tersebut, saya yakin hal-hal yang negatif akan terhapus dengan sendirinya.
Kerakusan jangan di lawan dengan kebencian, kemunafikan jangan dilawan dengan kebencian, Sakitnya Jiwa jangan di lawan dengan hinaan. Janganlah seni menjadi bagian politik untuk menjatuhkan seseorang, jadikanlah seni menjadi bagian masyarakat yang membawa kepentingan masyarakat, yang membangun harkat martabat rakyat Indonesia. Mudah-mudahan dimasa yang akan datang ada seniman yang mengatakan bahwa “Bangga Aku jadi Orang Indonesia”.
Tulisan ini dibuat setelah melihat kekalahan PSSI U19 yang kalah melawan Jepang dengan skor 7-0, yang secara teknik enggak kalah jauh dari mereka, mereka cuma kalah mental dan semangat untuk membela Bangsa dan Negara, suatu catatan sejarah yang berisi keprihatinan, tetapi saya tetap yakin dimasa yang akan datang Sepak Bola Indonesia akan berjaya.
- rifan's blog
- Login or register to post comments
